Cerita Sex Sungguh Nikmatnya Memek Ibu Guru -

Cerita Sex Sungguh Nikmatnya Memek Ibu Guru – – Gairahpria.com Seorang wanita dengan jilbab hijau lumut tampak berjalan terburu-buru menuju ruang guru, belahan rok yang cukup sempit memaksa wanita itu mengayun langkah kecil nan cepat. Namun saat dirinya tiba diruangan yang dituju, disana hanya didapatinya Bu Serlly yang sibuk mengoreksi hasil ujian harian para siswa.
“Bu.. apa Pak Anton sudah pulang?”
“Mungkin sudah,” jawab Bu Serlly, memandang Selvia dengan wajah penuh curiga, setau Bu Serlly hubungan antara Selvia dan Anton memang tak pernah akur, meski sama-sama guru muda, pemikiran Selvia dan Anton selalu bersebrangan. Selvia yang idealis dan Anton yang liberal.
“Memangnya ada apa Bu?” lanjut wanita itu, penasaran.
“Oh… tidak.. hanya ada perlu beberapa hal,” elak Selvia.
“Apa itu tentang pengajuan kenaikan pangkat dan golongan?” tambah Selv yang justru semakin penasaran.
“Bukan.. eh.. iya.. saya pamit duluan ya Bu,” ucap Selvia bergegas pamit.
“Semoga saja SMS itu cuma canda,” ucapnya penuh harap, bergegas menuju parkir, mengacuhkan pandangan satpam sekolah yang menatap liar tubuh semampai dibalut seragam hijau lumut khas PNS, ketat membalut tubuhnya.
Mobil Avanza, Selvia, membelah jalan pinggiran kota lebih cepat dari biasanya. Hatinya masih belum tenang, pikirannya terus terpaku pada SMS yang dikirimkan Anton, padahal lelaki itu hanya meminta tolong untuk membantunya menyusun persyaratan pengajuan pangkat, tapi rasa permusuhan begitu lekat dihatinya.
Jantung Selvia semakin berdebar saat mobilnya memasuki halaman rumah, di sana telah terparkir Ninja 250 warna hijau muda, “tidak salah lagi itu pasti motor Anton,” bisik hati Selvia. Di kursi beranda sudut mata wanita muda itu menangkap sosok seorang lelaki, asik dengan tablet ditangannya. “Kamu…” ucap Selvia dengan nada suara tak suka.
Anton membalas dengan tersenyum.
“Masuklah, tapi ingat suamiku tidak ada dirumah, jadi setelah semua selesai kamu bisa langsung pulang,” ucap Selvia ketus, meninggalkan lelaki itu diruang tamu.
Beraktifitas seharian disekolah memaksa Selvia untuk mandi, saat memilih baju, wanita itu dibuat bingung harus mengenakan baju seperti apa, apakah cukup daster rumahan ataukah memilih pakaian yang lebih formal.
“Apa yang ada diotak mu, Selv?!.. Dia adalah musuh bebuyutan mu disekolah,” umpat hati Selvia, melempar gaun ditangannya ke bagian bawah lemari.
Lalu mengambil daster putih tanpa motif. Tapi sayangnya daster dari bahan katun yang lembut itu terlalu ketat dan sukses mencetak liuk tubuhnya dengan sempurna, memamerkan bongkahan payudara yang menggantung menggoda. Selvia kembali dibuat bingung saat memilih penutup kepala, apakah dirinya tetap harus mengenakan kain itu ataukah tidak, toh ini adalah rumahnya. Namun tak urung tangannya tetap mengambil kain putih dengan motif renda yang membuatnya terlihat semakin anggun, tubuh indah dalam balutan serba putih yang menawan.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 petang dan untuk yang kedua kalinya Selvia menyediakan teh untuk Anton. Sementara lelaki itu masih terlihat serius dengan laptop dan berkas-berkas yang harus disiapkan, sesekali Selvia memberikan arahan.
Tanpa sadar mata Selvia mengamati wajah Anton yang memang menarik. “Sebenarnya cowok ini rajin dan baik, tapi kenapa sering sekali sikapnya membuatku emosi,” gumam Selvia, teringat permusuhannya dilingkungan sekolah. Pemuda yang memiliki selisih umur empat tahun lebih muda dari dirinya. Sikap keras Selvia sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan berbanding terbalik dengan sikap Anton yang kerap membela murid-murid yang melakukan pelanggaran disiplin.
“Tidak usah terburu-buru, minum dulu teh mu, lagipula diluar sedang hujan,” tegur Selvia yang berniat untuk bersikap lebih ramah.
“Hujan?… Owwhh Shiiit.. Ibuku pasti menungguku untuk makan malam,” umpat Anton.
Selvia tertawa geli mendengar penuturan Anton, “makan malam bersama ibumu? Tapi kamu tidak terlihat seperti seorang anak mami,” celetuk Selvia usil, membuat Anton ikut tertawa, namun tangannya terus bergerak seakan tidak tergoda untuk meladeni ejekan Selvia.
“Bereeesss..” ucap Anton tiba-tiba mengagetkan Selvia yang asik membalas BBM dari suaminya.
“Jadi apa aku harus pulang sekarang?” tanya Anton, wajahnya tersenyum kecut saat mendapati hujan diluar masih terlalu lebat.
“Di garasi ada jas hujan, tapi bila kamu ingin menunggu hujan teduh tidak apa-apa,” tawar Selvia yang yakin motor Anton tidak mungkin menyimpan jas hujan.
“Aku memilih berteduh saja, sambil menemani bu guru cantik yang sedang kesepian, hehehe…”
“Sialan, sebentar lagi suamiku pulang lhoo,”
Sesaat setelah kata itu terucap, Blackberry ditangan Selvia menerima panggilan masuk dari suaminya, tapi sayangnya suaminya justru memberi kabar bahwa dirinya sedikit terlambat untuk pulang, dengan wajah cemberut Selvia menutup panggilan.
“Ada apa, Selv..”
“Gara-gara kamu suamiku terlambat pulang,”
“Lhoo, kenapa gara-gara aku? Hahaha…” Anton tertawa penuh kemenangan, dengan gregetan Selvia melempar bantal sofa. Obrolan kembali berlanjut, namun lebih banyak berkutat pada dinamika kehidupan disekolah dan hal itu cukup sukses mencairkan suasana.
Selvia seakan melihat sosok Anton yang lain, lebih supel, lebih bersahabat dan lebih humoris. Jauh berbeda dari kacamatanya selama ini yang melihat guru cowok itu layaknya perusuh bagi dirinya, sebagai penegak disiplin para siswa.
“Aku heran, kenapa kamu justru mendekati anak-anak seperti Junot dan Darko, kedua anak itu tak lagi dapat diatur dan sudah masuk dalam daftar merah guru BK,” tanya Selvia yang mulai terlihat santai. “Seandainya bukan keponakan dari pemilik yayasan, pasti anak itu sudah dikeluarkan dari sekolah,” sambungnya.
“Yaa, aku tau, tapi petualangan mereka itu seru lho, mulai dari nongkrong di Mangga Besar sampai ngintipin anak cewek dikamar mandi, guru juga ada lho yang mereka intipin,” “Hah? yang benar? gilaaa, itu benar-benar perbuatan amoral,” Selvia sampai meloncat dari duduknya, berpindah ke samping Anton.
“Tapi tunggu, bukankah itu artinya kamu mendukung kenakalan mereka, dan siapa guru yang mereka intip?” tanya Selvia dengan was-was, takut dirinya menjadi korban kenakalan kedua siswa nya.
“Sebanarnya mereka anak yang cerdas dan kreatif, bay
angkan saja, hanya dengan pipa ledeng dan cermin mereka bisa membuat periskop yang biasa digunakan oleh kapal selam,” ucap Anton serius, memutar tubuhnya berhadapan dengan Selvia yang penasaran.
“Awalnya mereka cuma mengintip para siswi tapi bagiku itu tidak menarik, karena itu aku mengajak mereka mengintip di toilet guru, apa kamu tau siapa yang kami intip?”
Wajah Selvia menegang, menggeleng dengan cepat. “Siapa?,,,”
“kami mengintip guru paling cantik disekolah, Ibu Selvia Raihani!”
“Apa? gilaaa kamu Van, kurang ajar,” Selvia terkaget dan langsung menyerang Anton dengan bantal sofa.
“ampuun Reeeey, Hahahaa,,”
“Sebenarnya kamu ini guru atau bukan sih? Memberi contoh mesum ke murid-murid, besok aku akan melaporkan mu ke kepala sekolah,” sembur Selvia penuh emosi.
Anton berusaha menahan serangan dengan mencekal lengan Selvia.
“Hahahaa, aku bohong koq, aku justru mengerjai mereka, aku tau yang sedang berada di toilet adalah Pak Tigor dan apa kamu tau efeknya? Mereka langsung shock melihat batang Pak Tigor yang menyeramkan, Hahaha,” Selvia akhirnya ikut tertawa, tanpa sadar jika lengannya masih digenggam oleh Anton.
“Tu kan, kamu itu sebenarnya lebih cantik jika sedang tertawa, jadi jangan disembunyikan dibalik wajah galakmu,” ucap Anton yang menikmati tawa renyah Selvia yang memamerkan gigi gingsulnya. Seketika Selvia terdiam, wajahnya semakin malu saat menyadari tangan Anton masih menggenggam kedua tangannya.
Tapi tidak berselang lama bentakan dari bibir tipisnya kembali terdengar, “Hey!.. Kalo punya mata dijaga ya,” umpat Selvia akibat jelajah mata Anton yang menyatroni gundukan payudara dibalik gaun ketat yang tak tertutup oleh jilbab, Selvia beranjak dan duduk menjauh, merapikan jilbabnya.
“Punyamu besar juga ya,” balas Anton, tak peduli akan peringatan Selvia yang menjadi semakin kesal lalu kembali melempar bantalan sofa. “Ga usah sok kagum gitu, lagian kamu pasti sudah sering mengintip payudara siswi disekolah?,,”
“Tapi punyamu spesial, milik seorang guru tercantik disekolah,”
“Sialan..” dengus Selvia merapikan jilbabnya, tapi sudut bibirnya justru tersenyum, karena tak ada wanita yang tidak suka bila dipuji. Wajah Selvia memerah , kalimat Anton begitu vulgar seakan itu adalah hal yang biasa.
“Selv… liat dong,”
“Heh? Kamu mau liat payudaraku , gilaa… Benda ini sepenuhnya menjadi hak milik suamiku,” Wanita itu memeletkan lidahnya, tanpa sadar mulai terbawa sifat Anton yang cuek.
“Ayo dooong, penasaran banget nih,”
“Nanti, kalo aku masuk kamar mandi intipin aja pake piroskop ciptaan kalian itu, hahaha..” Selvia tertawa terpingkal menutup wajahnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.
“Yaaa, paling ngga jangan ditutupin jilbab keq,” sungut Anton, keqi atas ulah Selvia yang menertawakannya.
“Hihihi… Liat aja ya, jangan dipegang,” Ucap guru cantik itu dengan mata tertuju ke TV, lalu mengikat jilbabnya kebelakang.
“Kurang..”
“Apalagi? Bugil?” matanya melotot seolah-olah sedang marah, tetapi jantungnya justru berdebar kencang, menantang hatinya sejauh mana keberanian dirinya.
“satu kancing aja,”
“Dasar guru mesum,” Selvia lagi-lagi memeletkan lidahnya lalu kembali menolehkan wajahnya ke TV, namun tangannya bergerak melepas kancing atas.
Tapi tidak berhenti sampai disitu, karena tangannya terus bergerak melepas kancing kedua lalu menyibak kedua sisinya hingga semakin terbuka, membiarkan bongkahan berbalut bra itu menjadi santapan penasaran mata Anton. Entah apa yang membuat Selvia seberani itu, untuk pertama kalinya dengan sengaja menggoda lelaki lain dengan tubuh nya.
“Punyamu pasti lebih kencang dibanding milik Anita,” sambung Anton, matanya terus terpaku ke dada Selvia sambil mengusap-usap dagu yang tumbuhi jambang tipis, seolah menerawang seberapa besar daging empuk yang dimiliki wanita cantik itu. Tapi kata-kata Anton justru membuat Selvia kaget, bingung sekaligus penasaran. “Hhmmm.. Ada hubungan apa antara dirimu dan Bu Serlly?”
“Tidak ada, aku hanya menemani wanita itu, menemani malam-malamnya yang sepi,”
“Gilaaa.. Apa kamu… eeeenghhh,,,”
“Maksudmu aku selingkuhan Bu Anita kan? Hahaha…” Anton memotong kalimat Selvia setelah tau maksud kalimat yang sulit diucapkan wanita itu. “Bisa dikatakan seperti itu, hehehe.. Tapi kami sudah mengakhirinya tepat seminggu yang lalu,”
“Kenapa?” sambar Selvia yang tiba-tiba penasaran atas isu skandal yang memang telah menyebar dikalangan para guru mesum. Anton menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya. “Suaminya curiga dengan hubungan kami, meski Anita menolak untuk mengakhiri aku tetap harus mengambil keputusan itu, resikonya terlalu besar,”
“Apa kamu mencintai Bu Anita?”
Anton tidak langsung menjawab tapi justru mengambil rokok dari kantongnya, setelah tiga jam lebih menahan diri untuk tidak menghisap lintingan tembakau dikantongnya, akhirnya lelaki itu meminta izin, “Boleh aku merokok?”
“Silahkan..” jawab Selvia cepat.
“Aku tidak tau pasti, Anita wanita yang cantik, tapi dia bukan wanita yang kuidamkan,” beber lelaki itu setelah menghembuskan asap pekat dari bibirnya. Tapi wajah wanita didepannya masih menunjukkan rasa penasaran, “lalu apa saja yang sudah terjadi antara dirimu dan Anita?” cecarnya.
“Hahahaha.. Maksudmu apa saja yang sudah kami lakukan?”
Wajah Selvia memerah karena malu, Anton dengan telak membongkar kekakuannya sebagai seorang wanita dewasa. “Anita adalah wanita bersuami, artinya kau tidak berhak untuk menjamah tubuhnya,” ucap Selvia berusaha membela keluguan berfikirnya.
Anton tersenyum kecut, mengakui kesalahannya, “Tak terhitung lagi berapa kali kami melakukannya, mulai dari dirumahku, dirumahnya, bahkan kami pernah melakukan diruang lab kimia, desah suaranya sebagai wanita yang kesepian benar-benar menggoda diriku, rindu pada saat-saat aku menghamburkan spermaku diwajah cantiknya.”
Seketika wajah Selvia terasa panas membayangkan petualangan, Anita, “Kenapa kamu tidak menikah saja?” tanya Selvia berusaha menetralkan debar jantungnya. “Belum ada yang cocok,” jawab Anton dengan simpel, membuat Selvia menggeleng-gelengkan kepala, wanita itu mengambil teh dimeja dan meminumnya.
“Selv.. selingkuhan sama aku yuk..”
Brruuuuuffftttt…
Bibir tipis Selvia seketika menghambur air teh dimulutnya.
“Dasar guru mesum,” umpat Selvia membuang wajahnya, yang menampilkan ekspresi tak terbaca, kejendela yang masih mempertontonkan rinai hujan yang justru turun semakin deras.
“Aku masak dulu, lapar nih,” ucap Selvia, beranjak dari sofa berusaha menghindar dari tatapan Anton yang begitu serius, jantungnya berdegub keras masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Anton.
“Selv…” Panggilan Anton menghentikan langkah wanita itu.
“Kenapa wajahmu jadi pucat begitu, tidak perlu takut aku cuma bercanda koq,” ujar lelaki itu sambil terkekeh.
“Siaaal, ni cowok sukses mengerjai aku,” umpat hati Selvia.
“Aku tau koq, kamu tidak mungkin memiliki nyali untuk menggoda guru super galak seperti aku,” ucapnya sambil memeletkan lidah. Diam-diam bibirnya tersenyum saat Anton mengikuti ke dapur. Hatinya mencoba berapologi, setidaknya lelaki itu dapat menemaninya saat memasak.
Selvia dengan bangga memamerkan keahliannya sebagai seorang wanita, tangannya bergerak cepat menyiapkan dan memotong bumbu yang diperlukan, sementara Anton duduk dikursi meja makan dan kembali berceloteh tentang kenakalan dan kegenitan para siswi disekolah yang sering menggoda dirinya sebagai guru mesum jomblo tampan.
“Awas aja kalo kamu sampai berani menyentuh siswi disekolah,” Selvia mengingatkan Anton sambil mengacungkan pisau ditangan, dan itu membuat Anton tertawa terpingkal.
“Ckckckck, mahir juga tangan mu Selv,” Anton mengkomentari kecepatan tangan Selvia saat memotong bawang bombay.
“Hahaha… ayo sini aku ajarin..” tawar Selvia tanpa menghentikan aksinya.
Tapi Selvia terkejut ketika Anton memeluknya dari belakang, bukan.. cowok itu bukan memeluk, karena tangannya mengambil alih pisau dan bawang yang ada ditangannya. “Ajari aku ya..” bisik Anton lembut tepat ditelinganya. Kepala wanita itu mengangguk, tersenyum tersipu. Tangannya terlihat ragu saat menyentuh dan menggenggam tangan Anton yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Perlahan pisau bergerak membelah daging bawang.
“tangan mu terlalu kaku, Hahahaa,”
“Ya maaf, tanganku memang tidak terlatih melakukan ini, tapi sangat terlatih untuk pekerjaan lainnya.”
“Oh ya? Contohnya seperti apa? Membuat periskop untuk mengintip siswi dikamar mandi? Hahaha,,,”
“Bukan, tapi tanganku sangat terampil untuk memanjakan wanita cantik seperti mu,” ucap lelaki itu, melepaskan pisau dan bawang, beralih mengusap perut Selvia yang datar dan perlahan merambat menuju payudara yang membusung.
“Hahaha, tidaak tidaaak, aku bukan selingkuhanmu, ingat itu,” tolak Selvia berusaha menahan tangan Anton.
“Selv, jika begitu jadilah teman yang mesra untuk diriku, dan biarkan temanmu ini sesaat mengangumi tubuhmu, bila tanganku terlalu nakal kamu bisa menghentikanku dengan pisau itu, Deal?…”
Tubuh Selvia gemetar, lalu mengangguk dengan pelan, “Ya, Deaaal.” ucap bibir tipisnya, serak. Selvia kembali meraih pisau dan bawang dan membiarkan tangan kekar Anton dengan jari-jarinya yang panjang menggenggam payudara nya secara utuh. Memberikan remasan yang lembut, memainkan sepasang bongkahan daging dengan gemas.
Mata Selvia terpejam, kepalanya terangkat seiring cumbuan Anton yang perlahan merangsek keleher yang masih terbalut jilbab. Romansa yang ditawarkan Anton dengan cepat mengambil alih kewarasan Selvia.
“Owwhhhh,” bibir Selvia mendesah, kakinya seakan kehilangan tenaga saat jari-jari Anton berhasil menemukan puting payudara yang mengeras.
“Rivaaaan,” ucap wanita itu sesaat sebelum bibirnya menyambut lumatan bibir yang panas.
Membiarkan lelaki itu menikmati dan bercanda dengan lidahnya, menari dan membelit lidahnya yang masih berusaha menghindar. “Eeeemmhhh…” wajahnya terkaget, Anton dalam hisapan yang lembut membuat lidah nya berpindah masuk menjelajah mulut lelaki itu dan merasakan kehangatan yang ditawarkan.
Menggelinjang saat lelaki itu menyeruput ludah dari lidahnya yang menari. Jika Selvia mengira permainan ini sebatas permainan pertautan lidah, maka wanita itu salah besar, karena jemari dari lelaki yang kini memeluknya penuh hasrat itu mulai menyelusup kebalik kancingnya.
“Boleh?”
Wanita berbalut jilbab itu tak berani menjawab, hanya memejamkan matanya dan menunggu keberanian silelaki untuk menikmati tubuhnya. Begitu pun saat tangan Anton berusaha menarik keluar bongkahan daging padat yang membusung menantang dari bra yang membekap.
“Oooowwwhh, eemmppphhh,” tubuh Selvia mengejang seketika, tangan lentiknya tak mampu mengusir tangan Anton, hanya mencengkram agar jemari lelaki itu tidak bergerak terlalu lincah memelintir puting mungilnya.
“Selv.. Kenapa kamu bisa sepasrah ini?.. Benarkah kamu menyukai lelaki ini?.. Bukan.. Ini bukan sekedar pertemanan Selv.. Meski kau tidak menyadari aku bisa merasakan bibit rasa suka dihatimu akan lelaki itu, Selv…” hati kecil Selvia mencoba menyadarkan. Tapi wanita itu justru berusaha memungkiri penghianatan cinta yang dilakoninya, berusaha mengenyahkan bisikan hati dengan memejamkan matanya lebih erat.
Wajahnya mendongak ke langit rumah, berusaha lari dari batinnya yang berteriak memberi peringatan. Pasrah menunggu dengan hati berdebar saat tangan Anton mulai mengangkat dasternya keatas dan dengan pasti menyelinap kebalik kain kecil, menyelipkan jari tengah kecelah kemaluan yang mulai basah.
“Ooowwwhhhhhhh,” bibirnya mendesah panjang, berusaha membuka kaki lebih lebar seakan membebaskan jari-jari Anton bermain dengan klitorisnya.
Kurihiiiing…
Kurihiiiing…
Dering HP mengagetkan keduanya, membuat pergumulan birahi itu terlepas. Kesadaran Selvia mengambil alih seketika, dirinya semakin shock melihat nama yang tertera dilayar HP, ‘Mas Anggara’.
“Hallo mas, halloo,,” sambut Selvia diantara usahanya mengkondisikan jantung yang berdegup kencang.
“Mas sedang dimana, kenapa belum pulang?” ucap Selvia kalut dengan rasa takut dan bersalah yang begitu besar, seolah suaminya kini berdiri tepat didepannya.
“Mas masih dirumah sakit, mungkin tidak bisa pulang malam ini,” jawab suara besar diujung telpon.
“Iya.. Iya tidak apa-apa, Mas kerja saja yang tenang,”
Setelah mengucap salam, sambungan telpon dimatikan. Selvia berdiri bersandar dimeja, menghela nafas panjang lalu meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.
“Anton, terimakasih untuk semuanya, tapi kau bisa pulang sekarang,”
“Tidak Selv, kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai,”
“Apa maksudmu?… Tidak.. Aku bukan seperti Anita yang kesepian, aku tidak memiliki masalah apapun dengan suamiku, keluarga yang kumiliki saat ini adalah keluarga yang memang kuidamkan…” wajah Selvia menjadi pucat saat Anton mendekat menempel ketubuhnya, mengangkat dasternya lebih tinggi, memeluk dan meremas pantat yang padat berisi.
“Anton, ingat!.. Kamu seorang guru, bukan pemerkosa..” didorongnya tubuh lelaki itu, tapi dekapan tangan Anton terlalu erat.
“Yaa.. Aku memang bukan pemerkosa, aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah kita mulai,”
“Gila kamu Anton, aku adalah istri yang setia, tidak seperti wanita-wanita yang pernah kau tiduri ”
“Ohh ya?,,” Anton tersenyum sambil menurunkan celananya dan memamerkan batang yang telah mengeras, batang besar yang membuat Selvia terhenyak.
Tiba-tiba dengan kasar Anton mencengkram tubuh Selvia dan mendudukkan wanita itu diatas meja, dengan gerakan yang cepat menyibak celana dalam Selvia, batang besar itu telah berada didepan bibir senggama Selvia.
“Jangan Rivaaan, aku bisa berbuat nekat,” Selvia mulai menangis ketakutan, meraih garpu yang ada disampingnya, mengancam Anton.
“Kenapa mengambil garpu, bukankah disitu ada pisau?” Anton terkekeh, wajah yang tadi dihias senyum menghanyutkan kini berubah begitu menakutkan.
“Aaaaaaaaaaaggghh…” Anton berteriak kesakitan saat Selvia menusukkan garpu ke lengan lelaki itu.
Lelaki itu menepis tangan Selvia, merebut garpu dan melemparnya jauh, darah terlihat merembes dikemeja lelaki itu. “Bila ingin mengakhiri ini seharusnya kau tusuk tepat di ulu hatiku,” ucapnya dengan wajah menyeringai sekaligus menahan sakit.
“Tidaaak Rivaaaan, hentikaaan,” Selvia berhasil berontak mendorong tubuh besar Anton lalu berlari kearah kamar, tapi belum sempat wanita itu menutup kamar Anton menahan dengan tangannya.
“Aaaaagghh…” Anton mengerang kesakitan akibat tangannya yang terjepit daun pintu, lalu dengan kasar mendorong hingga membuat Selvia terjengkal.
“Dengar Selv.. Sudah lama aku menyukai mu, dan aku berusaha menarik perhatianmu dengan menentang setiap kebijakan mu,”
Dengan kasar Anton mendorong wanita itu kelantai dan melucuti pakaiannya, Selvia berteriak meminta tolong sembari mempertahankan kain yang tersisa, tapi derasnya hujan mengubur usahanya. Lelaki itu berdiri mengangkangi tubuh Selvia yang terbaring tak berdaya, memamerkan batang besar yang mengeras sempurna, kejantanan yang jelas lebih besar dari milik suaminya.
Wanita itu menangis saat Anton dengan kasar menepis tangan yang masih berusaha menutupi selangkangan yang tak lagi dilindungi kain. “Cuu.. Cukup Anton, sadarlaaah..” sambil terus menangis Selvia berusaha menyadarkan, tapi usahanya sia-sia, mata lelaki itu terhiptonis pada lipatan vagina dengan rambut kemaluan yang terawat rapi.
Dengan kekuatan yang tersisa Selvia berusaha merapatkan kedua pahanya, namun terlambat, Anton telah lebih dulu menempatkan tubuhnya diantara paha sekal itu dan bersiap menghujamkan kejantanannya untuk mengecap suguhan nikmat dari wanita secantik Selvia.
“Ooowwhhh… Vagina mu lebih sempit dibanding milik Anita,” desah Anton seiring kejantanan yang menyelusup masuk ke liang si betina.
“Oohhkk.. Oohhkk..” bibir Selvia mengerang menerima hujaman yang dilakukan dengan kasar, semakin keras batang besar itu menghujam semakin kuat pula jari-jari Selvia mencakar tangan Anton, air matanya tak henti mengalir.
Tubuhnya terhentak bergerak tak beraturan, Anton menyetubuhinya dengan sangat kasar. Wajah lelaki itu menyeringai saat melipat kedua paha Selvia keatas, memberi suguhan indah dari batang besar yang bergerak cepat menghujam celah sempit vagina Selvia.
“Sayang, aku bisa merasakan lorong vaginamu semakin basah, ternyata kamu juga menikmati pemerkosaan ini, hehehe”
Plak…
Pertanyaan Anton berbuah tamparan dari tangan Selvia, tapi lelaki itu justru tertawa terpingkal, lidahnya menjilati jari-jari kaki Selvia yang terangkat keatas dengan pinggul yang terus bergerak menghujamkan batang pusakanya. Puas bermain dengan kaki Selvia, tangan lelaki itu bergerak melepas bra yang masih tersisa.
“Ckckckck… Sempurna, sejak dulu aku sudah yakin payudaramu lebih kencang dari milik Anita,”
Tubuh Selvia melengkung saat putingnya dihisap lelaki itu dengan kuat. “Oooooouugghh..”
“Pasti Anita malam ini tidak bisa tidur karena menunggu batang kejantanan yang kini sedang kau nikmati, Oowwhhh kecantikan, keindahan tubuh dan nikmatnya vaginamu benar-benar membuatku lupa pada beringasnya permainan Anita,” ucap Anton, membuat Selvia kembali melayangkan tangannya kewajah lelaki itu.
“Bajingan kamu, Van..” umpat wanita itu, tapi tak berselang lama bibirnya justru mendesah saat lidah Anton bermain ditelinganya. “Oooowwwhhhhh….”
“Hehehe…akuilah, jika kamu juga menikmati pemerkosaan ini, rasakanlah besarnya penisku divagina sempit mu ini,”
Mata wanita itu terpejam, air matanya masih mengalir dengan suara terisak ditingkahi lenguhan yang sesekali keluar tanpa sadar. Hatinya berkecamuk, sulit memang memungkiri kenikmatan yang tengah dirasakan seluruh inderanya.
“Reeeey… Sadarlah, kamu wanita baik-baik, seorang istri yang setia, setidaknya tutuplah mulut nakal mu itu,” teriak hatinya mencoba mengingatkan, membuat airmata Selvia semakin deras mengalir.
Yaa.. meski hatinya berontak, tapi tubuhnya telah berkhianat, pinggulnya tanpa diminta bergerak menyambut hentakan batang yang menggedor dinding rahim. Anton tersenyum penuh kemenangan.
“Berbaliklah, sayang,” pintanya.
Tubuh Selvia bergerak lemah membelakangi Anton, pasrah saat lelaki itu menarik pantatnya menungging lebih tinggi, menawarkan kenikmatan dari liang senggama yang semakin basah. Jari-jari lentiknya mencengkram sprei saat lelaki dibelakang tubuhnya menggigiti bongkahan pantatnya dengan gemas.
“Oooowwwhhhh… Eeeeeenghhh..” pantat indah yang membulat sempurna itu terangkat semakin tinggi ketika lidah yang panas memberikan sapuan panjang dari bibir vagina hingga keliang anal.
Rasa takut dan birahi tak lagi mampu dikenali, matanya yang sendu mencoba mengintip pejantan yang membenamkan wajah tampannya dibelahan pantat yang bergetar menikmati permainan lidah yang lincah menari, menggelitik liang vagina dan anusnya, suatu sensasi kenikmatan yang tak pernah diberikan oleh suaminya.
Isak tangis bercampur dengan rintihan. Hati yang berontak namun tubuhnya tak mampu berdusta atas lenguhan panjang yang mengalun saat batang besar Anton kembali memasuki tubuhnya, menghantam bongkahan pantatnya dengan bibir menggeram penuh nafsu.
Begitupun saat Anton meminta Selvia untuk menaiki tubuhnya, meski airmatanya jatuh menetes diatas wajah sipejantan tapi pinggul wanita itu bergerak luwes dengan indahnya menikmati batang besar yang dipaksa untuk masuk lebih dalam.
“Aaaawwhhhh Selv… Boleh aku menghamilimu?” ucap Anton saat posisinya kembali berada diatas tubuh Selvia, menunggangi tubuh indah yang baru saja meregang orgasme.
Wanita itu membuang wajahnya, bibirnya terkatup rapat tak berani menjawab hanya gerakan kepala yang menggeleng menolak, matanya begitu takut beradu pandang dengan mata Anton yang penuh birahi.
Batang besar Anton bergerak cepat, orgasme yang diraih siwanita membuat lorong senggamanya menjadi sangat basah. Hentakan pinggul lelaki itu begitu cepat dan kuat seakan ingin membobol dinding rahim, memaksa Selvia berpegangan pada besi ranjang penikahannya untuk meredam kenikmatan yang didustakan.
“Reeeeey.. Boleh aku menghamilimuuu?.. Aaaagghhh, cepaaaaat jawaaaaaaaab,” teriak Anton yang menggerakkan pinggulnya semakin cepat.
Selvia menatap Anton dengan kepala yang menggeleng. “Jangaaan.. kumohooon jangaaaan… Anton tersenyum menyeringai “Kamu yakin? Tidak ingin merasakan sensasi bagaimana sperma lelaki lain menghambur dirahim mu?”
Plaaak..
Selvia kembali menampar wajah Anton untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini jauh lebih keras. Wanita menjerit terisak, tapi kaki jenjangnya justru bergerak melingkari pinggul silelaki, tangannya memeluk erat seakan ingin menyatukan dua tubuh.
Tangis Selvia semakin menjadi, menangisi kekalahannya. Tangannya menyusuri punggung Anton yang berkeringat lalu meremas pantat yang berotot seakan mendukung gerakan Anton yang menghentak batang semakin dalam.
“Kamu jahaaaaat Rivaaaan.. jahaaaaat..” teriak Selvia seiring lenguh kenikmatan dari bibir silelaki.
Menghambur bermili-mili sperma dilorong senggama, menghantar ribuan benih kerahim siwanita yang mengangkat pinggulnya menyambut kepuasan silelaki dengan lenguh orgasme yang kembali menyapa, tubuh keduanya mengejat, menggelinjang, menikmati suguhan puncak dari sebuah senggama tabu.
“Kenapa kau mempermainkan aku seperti ini,” isak Selvia dengan nafas memburu, tangannya masih meremasi pantat berotot Anton yang sesekali mengejat untuk menghantar sperma yang tersisa kerahim si wanita.
“Karena aku mencintaimu,” bisik lembut si penjantan ditelinga betina yang membuat pelukannya semakin erat, membiarkan tubuh besar itu berlama-lama diatas tubuh indah yang terbaring pasrah. Membisu dalam pikiran masing-masing.
“Apa kamu bersedia menjadi teman selingkuhku?”
Selvia menggeleng dengan cepat, “Aku tidak berani, Anton, Ooooowwhhhhhh..” wanita itu melepaskan pagutan kakinya dan mengangkang lebar, membiarkan silelaki kembali menggerakkan pingulnya dan memamerkan kehebatan kejantanannya dicelah sempit vagina Selvia.
“Tapi bagaimana bila aku memaksa?..”
“Itu tidak mungkin Oooowwhhh… Aku sudah bersuami dan memiliki anak, aaaahhhhhh…” Selvia menggelengkan kepala, berusaha kukuh atas pendirian, meski pinggul indahnya bergerak liar, tak lagi malu untuk menyambut setiap hentakan yang menghantar batang penis kedalam tubuhnya.
Selvia tak ingin berdebat, tangannya menjambak rambut Anton saat bibir lelaki itu kembali berusaha merayu, membekap wajah Anton pada kebongkahan payudara dengan puting yang mengeras.
“Kamu jahat, Van.. Tak seharusnya aku membiarkan lelaki lain menikmati tubuhku.. Ooowwwhh.. Ooowwwhhh…”
Setelahnya tak ada lagi kalimat lagi yang keluar selain desahan dan lenguhan dan deru nafas yang memburu. Hingga akhirnya bibir Anton bersuara serak memanggil nama si wanita.
“Reeeeey… Boleeeehkaaan?”
Selvia menatap sendu wajah birahi Anton, dengan kesadaran yang penuh wanita itu mengangguk lalu merentang kedua tangan dan kakinya, memberi izin kepada silelaki untuk kembali menghambur sperma kedalam rahimnya.
“Reeeey..” panggil lelaki itu kembali, membuat siwanita bingung, sementara tubuhnya telah pasrah menjadi pelampiasan dari puncak birahi Anton.
Dengan wajah memelas tangan Anton bergerak mengusap wajah Selvia, telunjuknya membelah bibir tipis siwanita.
“Dasar guru mesum, ” ucap Selvia sambil menampar pipi Anton tapi kali ini dengan lembut,
“kamu menang banyak hari ini, Van..” ucapnya lirih dengan mata sembap oleh air mata.
“Boleeeh?..”
Selvia memalingkan wajahnya, lalu mengangguk ragu. Anton bangkit mencabut batangnya lalu mengangkangi wajah guru cantik itu. Sudut mata Selvia menangkap wajah tampan silelaki yang menggeram sambil memainkan batang besar tepat didepan wajah nya.
Jemari lentiknya gemetar saat mengambil alih batang besar itu dari tangan Anton. Memberanikan diri untuk menatap lelaki yang mengangkangi wajahnya, kepasrahan wajah seorang wanita atas lelaki yang menikmati tualang birahi atas tubuhnya.
“Aaaaaaaagghhh.. Aaaaagghhh.. Reeeeey..” wajah Anton memucat seiring sperma yang menghambur kewajah cantik yang menyambut dengan mata menatap sendu. “Aaaaaagghhhh.. Sayaaaaaang..”
Tak pernah sekalipun Selvia menyaksikan seorang pejantan yang begitu histeris mendapatkan orgasmenya, dan tak pernah sekalipun Selvia membiarkan seorang pejantan menghamburkan sperma diwajah cantiknya. Dengan ragu Selvia membuka bibirnya, membiarkan tetesan sperma menyapa lidahnya. Batang itu terus berkedut saat jari lentik Selvia yang gemetar menuntun kedalam mulutnya.
Menikmati keterkejutan wajah Anton atas keberaniannya. Bibirnya bergerak lembut menghisap batang Anton, mempersilahkan lelaki itu mengosongkan benih birahi didalam bibir tipisnya.
“Ooooooowwwhhhhh.. Reeeeeeeey…” Anton mengejat, menyambut tawaran Selvia dengan beberapa semburan yang tersisa.
“Cepatlah pulang.. Aku tidak ingin suamiku datang dan mendapati dirimu masih disini,” pinta Selvia setelah Anton sudah mengenakan kembali seluruh pakaiannya.
“Masih belum puas?.. dasar guru mesum,” ucapnya ketus saat Anton memeluk dari belakang.
“aku bukanlah selingkuhan mu, catat itu,” Selvia menepis tangan Anton.
“Yaa.. Aku akan mencatatnya disini, disini, dan disini..” jawab Anton sambil menunjuk bibir tipis Selvia, lalu beralih meremas payudara yang membusung dan berakhir dengan remasan digundukan vagina.
“Dasar gila ni cowok,” umpat hati Selvia, yang kesal atas ulah Anton tetap terlihat cuek setelah apa yang terjadi.
Selvia menatap punggung Anton saat lelaki itu melangkah keluar, hujan masih mengguyur bumi Jakarta dengan derasnya, dibibir pintu lelaki itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, menampilkan wajah serius.
“Maaf Selv, sungguh ini diluar dugaanku, semua tidak lepas dari khayalku akan dirimu, tapi aku memang salah karena mencintai wanita bersuami, Love you Selv..” ucap Anton lalu melangkah keluar kepelukan hujan.
“Rivaaan.. Love u too,” teriak Selvia dengan suara serak, membuat langkah Anton terhenti
“Tapi maaf aku tidak bisa jadi selingkuhanmu.” lanjutnya.
“Mamaaaaaa, Elminaaaa pulaaaaang,” teriak seorang bocah dengan ceria, coba mengagetkan wanita yang sibuk merapikan tempat tidur yang berantakan, gadis kecil itu langsung menghambur memeluk tubuh Selvia, ibunya.
Usaha gadis itu cukup berhasil, Selvia sama sekali tidak menduga, Ermina, putri kecilnya yang beberapa hari menginap ditempat kakeknya dijemput oleh suaminya.
“Ini buat mama dari Elmina,” ucapnya cadel, menyerahkan balon gas berbentuk amor yang melayang pada seutas tali. “Elmina kangen mamaa, selamat valentine ya, ma, Semoga mama semakin cantik dan sehat selalu..”
Wajah mungil itu tersenyum ceria, senyum yang begitu tulus akan kerinduan sosok seorang ibu. Selvia tak lagi mampu membendung air mata, menatap mata bening tanpa dosa yang menunjukkan kasih sayang seorang anak. Sementara dibelakang gadis itu berdiri suaminya, Anggara, sambil menggenggam balon yang sama.
“Selamat valentine, sayang,” ucap Anggara, tersenyum dengan gayanya yang khas, senyum lembut yang justru mencabik-cabik hati Selvia.
Seketika segala sumpah serapah tertumpah dari hatinya, atas ketidaksetiaannya sebagai seorang istri, atas ketidak becusannya menyandang sebutan seorang ibu.
“Maafin Mama, sayang,” ucap Selvia tanpa suara, memeluk erat tubuh mungil Ermina, terisak dengan tubuh gemetar. “Maafin mama, Pah,”
Tengah malam, Selvia berdiri dibalik jendela, menatap gulita dengan gundah. Suaminya dan Ermina telah terlelap.
PING!…
Tanpa hasrat wanita itu membuka BBM yang ternyata menampilkan pesan dari Anton.
“Besok pukul 12 aku tunggu di lab kimia, ”
Jemari kiri Selvia erat menggenggam tangan suaminya yang tengah pulas tertidur, sementara tangan kanannya menulis pesan dengan gemetar. “Ya, aku akan kesitu,”
|GAIRAHPRIA.COM (MATAUANGSLOT) |GAIRAHPRIA.COM