Cerita Sex Kisah Antara Guru Dan Murid –

Cerita Sex Kisah Antara Guru Dan Murid – GAIRAHPRIA.COM Napas Fendy memburu, beradu dengan desahan tertahan Bu Ayu yang kini berdiri di hadapannya, aura birahi menyelimuti keduanya seperti kabut tebal. Pintu kamar hotel mewah itu baru saja tertutup, mengunci mereka dari dunia luar, dan membuka gerbang menuju alam liar nafsu yang tak terhingga. Mata Bu Ayu, biasanya teduh di depan kelas, kini membara dengan gairah tak terkendali, bibirnya yang merah ranum tampak begitu mengundang.
“Akhirnya… kita sendirian, Fendy,” bisik Bu Ayu, suaranya serak dan sensual, membuat bulu kuduk Fendy meremang. Tanpa menunggu lebih lama, Fendy menarik pinggang Bu Ayu mendekat, bibirnya langsung melumat bibir sang guru dengan rakus. Ciuman itu kasar, lapar, dan tak sabar. Lidah mereka bertarung sengit, saling melilit, mengulum, dan menghisap, menciptakan suara decapan basah yang memekakkan di kesunyian kamar. Tangan Fendy melesak masuk ke dalam blus tipis Bu Ayu, meremas punggungnya, lalu naik menuju bra.
“Ugh… Fendy…” desah Bu Ayu di sela ciuman, punggungnya melengkung saat tangan Fendy berhasil menyingkap kain bra-nya dan membebaskan kedua tetek ranumnya. Jemari Fendy langsung menjepit putingnya yang sudah mengeras, memelintir kecil, dan sentakan listrik langsung menjalar ke seluruh tubuh Bu Ayu. “Ahhh… sakit, sayang… tapi enak…”
Fendy melepaskan ciuman untuk menatap wajah Bu Ayu yang kini memerah dan mata yang setengah terpejam. “Sakit? Atau nagih, Bu Guru?” ejek Fendy, suaranya berat dan menggoda.
Bu Ayu mendengus, “Keduanya, bodoh!” Dia membalas dengan mencengkeram erat rambut Fendy, menarik kepalanya untuk kembali melumat bibirnya. Kali ini, tangannya tak tinggal diam. Dia merogoh ikat pinggang Fendy, membuka kancing celananya, dan dengan cepat menarik resletingnya turun. Sebuah kontol yang sudah mengeras dan menegang seperti batu bata, langsung melonjak bebas dari balik celana dalam Fendy.
“Kontolmu sudah tegang banget, sayang,” gumam Bu Ayu, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang dalam saat melihat ukuran batang Fendy yang besar dan panjang. Dengan gerakan memukau, dia menyentuh kepala kontol Fendy yang basah dengan lendir pre-cum, mengelusnya lembut sebelum jari-jarinya mulai mengocok batang Fendy naik turun dengan ritme lambat yang menyiksa.
“Ahhh… Bu Guru… jangan disiksa gini… aku udah nggak tahan,” Fendy mendesah, kepalanya mendongak saat sensasi tangan Bu Ayu membelai kontolnya membanjiri otaknya. Keduanya masih berdiri, tetapi Bu Ayu berlutut di hadapan Fendy, matanya menatap tajam ke arah kontolnya. Perlahan, dia mendekatkan bibirnya ke kepala kontol Fendy, menjilatnya pelan, lalu menghisapnya sedikit demi sedikit.
“Ughhh… ahhh…” Fendy mengerang panjang, jari-jarinya mencengkeram rambut Bu Ayu. Kontolnya langsung menegang maksimal di dalam mulutnya. Bu Ayu semakin berani. Dia memasukkan seluruh batang Fendy ke dalam mulutnya yang hangat dan basah, lidahnya bermain di sekeliling kepala kontol, dan tenggorokannya bergerak naik turun, menghisap, mengulum, dan memutar. Suara decapan basah dan gumaman Fendy memenuhi ruangan.
“Enak, Bu Guru? Enak kontolku?” Fendy bertanya serak, mendorong pinggulnya ke depan, membiarkan Bu Ayu menghisap kontolnya lebih dalam.
Bu Ayu melepaskan sebentar, wajahnya memerah, bibirnya basah dan bengkak. “Sangat enak, sayang… kontolmu besar dan keras sekali… Ahhh…” Dia kembali menghisap, kali ini dengan tempo yang lebih cepat, jari-jarinya ikut mengocok batang Fendy yang berurat. Fendy nyaris crot, tapi dia menahannya. Dia ingin merasakan Bu Ayu sepenuhnya.
Fendy menarik Bu Ayu berdiri, napas keduanya tersengal. “Sekarang giliranmu, sayang.” Tanpa membuang waktu, Fendy mendorong Bu Ayu ke ranjang, menciumnya lagi dengan ganas. Tangan Fendy bergerak cepat, merobek kancing blus Bu Ayu, membuang bra-nya entah ke mana, lalu menarik rok dan celana dalamnya sekaligus. Seketika, tubuh Bu Ayu terpampang telanjang di hadapannya.
Mata Fendy membelalak melihat pemandangan di depannya. Kedua tetek Bu Ayu yang besar dan padat, dengan puting yang mencuat keras, naik turun mengikuti detak jantungnya. Perutnya yang rata, dan kemudian, yang paling memikat, memeknya. Memek Bu Ayu tampak sedikit berbulu halus, tapi sangat rapi dan rapi, dengan belahan yang basah dan sedikit terbuka, memperlihatkan klitorisnya yang membengkak merah muda. Aroma amis bercampur harum gairah langsung menyeruak, memabukkan Fendy.
“Ya Tuhan, Bu Guru… memekmu indah sekali,” Fendy berbisik, suaranya penuh kekaguman. Dia langsung menghujamkan wajahnya ke memek Bu Ayu, menjilat belahan lobangnya dengan lidahnya yang panas.
“Ahhh! Fendy! Ohhh…!” Bu Ayu memekik, kakinya langsung melilit pinggang Fendy, jemarinya mencengkeram seprai hotel dengan kuat. Lidah Fendy tak henti-hentinya menelusuri setiap inci lobang Bu Ayu, dari klitorisnya yang sudah membengkak, hingga ke bibir memek bagian dalam, bahkan tak ragu menjilat hingga ke lobang pantatnya.
“Mmmh… memekmu basah sekali, sayang… becek… ahhh…” Fendy mendesah, terus menghisap klitoris Bu Ayu dengan kuat, sesekali mengulumnya, lalu menjilatinya dengan ritme cepat. Bau memek Bu Ayu yang campur aduk dengan aroma lendir basah, memenuhi hidungnya, membuatnya semakin gila.
Bu Ayu mengerang tanpa henti, pinggulnya bergerak tak terkendali, menekan wajah Fendy lebih dalam ke memeknya. “Ohhh Fendy… enak sekali… hisap lagi… hisap yang kuat… ahhh… aku mau keluar…” Suaranya bergetar, tubuhnya mulai kejang-kejang. “Terus… terus… jilat klitorisku… ahhh… ahhhh!”
Tiba-tiba, tubuh Bu Ayu menegang, punggungnya melengkung kuat, dan cairan panas muncrat dari memeknya, membasahi wajah Fendy. “Croottt! Ahhh! Aku keluar, sayang! Aku keluar!” Bu Ayu berteriak, suaranya bercampur antara lega dan gairah yang meluap-luap. Dia baru saja mencapai orgasme pertamanya.
Fendy menjilat sisa-sisa cairan Bu Ayu dari bibirnya, rasa manis bercampur asin memenuhi mulutnya. “Enak, sayang… rasa memekmu sangat enak,” Fendy berkata, matanya menatap Bu Ayu yang terengah-engah.
Keduanya kini sama-sama telanjang, sama-sama penuh dengan lendir dan hasrat. Fendy naik ke atas Bu Ayu, menggesekkan kontolnya yang masih tegak ke memek Bu Ayu yang basah kuyup. Gesekan itu menciptakan sensasi listrik yang membuat keduanya menggeliat.
“Aku mau kontolmu di dalamku, Fendy,” Bu Ayu memohon, matanya menatap Fendy dengan penuh harap. “Aku mau kontol besarmu merobekku… tusuk aku yang dalam, sayang…”
Fendy menyeringai, “Tentu, Bu Guru… Siap-siap memekmu kujebol…” Dengan perlahan, Fendy menyelaraskan batangnya dengan lobang Bu Ayu. Kepala kontolnya menyentuh bibir memek Bu Ayu yang bengkak dan basah, mencari jalan masuk. Bu Ayu mendongak, merasakan ujung kontol Fendy menyentuhnya, sensasi panas dan tebal yang begitu mengundang.
Fendy mendorong perlahan. “Ahhh…” desah Bu Ayu. Kontol Fendy masuk sedikit demi sedikit, terasa begitu ketat dan hangat di dalam lobangnya. Dinding memeknya langsung menjepit kontol Fendy erat-erat.
“Sempit sekali, sayang…” Fendy mendesah, otot-otot di rahangnya mengeras. Dia mendorong lagi, lebih dalam. Bu Ayu mengerang, mencengkeram punggung Fendy. Kontol Fendy kini sudah masuk setengah, membelah lobang Bu Ayu yang sempit dan basah.
“Terus, sayang… tusuk yang dalam…” Bu Ayu mendesak, air mata gairah sudah memenuhi sudut matanya. Fendy tak menunggu lagi. Dengan satu dorongan kuat, dia menghujamkan seluruh batang kontolnya ke dalam memek Bu Ayu.
“ARGHHHH!” keduanya berteriak bersamaan. Fendy karena sensasi memek Bu Ayu yang begitu ketat dan hangat menjepit kontolnya. Bu Ayu karena sensasi kontol Fendy yang begitu panjang dan besar menghantam cervix-nya.
“Enak, Bu Guru?” Fendy mendesah, napasnya memburu, keringat mulai membasahi dahi mereka.
Bu Ayu tak bisa menjawab, hanya desahan panjang yang keluar dari bibirnya. Pinggulnya mulai bergerak otomatis, membalas setiap hentakan Fendy. Suara plop-plop basah dari pertemuan kulit dan daging, beradu dengan suara desahan dan erangan, memenuhi kamar.
Fendy memulai ritme pelan, maju-mundur, menarik kontolnya nyaris keluar, lalu menghujamkannya lagi dengan kuat. Setiap kali kontolnya masuk dan keluar, dinding memek Bu Ayu akan menjepitnya, membuat sensasi yang luar biasa gila. “Ohhh… memekmu… memekmu nikmat sekali, Bu Guru… ahhh…”
“Fendy… ohhh… terus… tusuk aku terus… kontolmu… kontolmu menghantam rahimku… ahhh… enak… enak sekali…” Bu Ayu mengerang, kedua kakinya melilit erat pinggang Fendy, menariknya lebih dalam. Dia mencium bahu Fendy, menggigitnya sedikit, melepaskan semua gairah yang sudah memuncak.
Fendy mempercepat tempo. Hentakannya kini lebih dalam, lebih kuat, dan lebih bertenaga. Kontolnya berulang kali menghantam dinding memek Bu Ayu, membuat tubuhnya terpantul-pantul di atas ranjang. Keringat membanjiri tubuh keduanya, bercampur dengan lendir basah dari memek Bu Ayu yang semakin luber.
“Ahhh… ohhh… lagi… lebih dalam, Fendy… aku mau lagi… ahhh…” Bu Ayu berteriak, kepalanya mendongak, rambutnya acak-acakan. Memeknya sudah basah kuyup, membanjiri kontol Fendy dengan cairan pelumasnya.
“Kau suka, Bu Guru? Kau suka kontolku menguras memekmu? Aku akan jebol memekmu sampai puas!” Fendy mendesah, terus menghantam memek Bu Ayu tanpa ampun. Setiap kali kontolnya menghantam dalam, ia merasakan dinding memek Bu Ayu berdenyut-denyut menjepitnya.
Tubuh Bu Ayu mulai menegang lagi. “Aku mau keluar lagi, Fendy! Ahhh! Jangan berhenti! Lebih cepat! Lebih cepat!” Dia berteriak histeris, otot-otot di kakinya mengencang, melilit Fendy dengan erat.
Fendy pun merasakan klimaksnya mendekat. Kontolnya berdenyut-denyut di dalam memek Bu Ayu, siap memuntahkan semua beban. Dia mempercepat hentakannya, memompa kontolnya keluar-masuk dengan kecepatan gila, menghantam titik g-spot Bu Ayu berkali-kali.
“Ahhh… ahhh… aku keluar! Ohhh, Fendy! Aku keluar lagi! CROTTT!” Bu Ayu menjerit, tubuhnya bergetar hebat, air mata membasahi pipinya saat gelombang orgasme menghantamnya. Memeknya menjepit kontol Fendy dengan kekuatan penuh, memeras setiap tetes kenikmatan.
Fendy merasakan semua itu, dan itu memicu klimaksnya sendiri. “AHHHH! BU GURU! AKU CROOOOOTTT!” Fendy meraung, tubuhnya menegang, dan kontolnya berdenyut keras, memuntahkan semua spermanya yang panas ke dalam rahim Bu Ayu. Dia membenamkan wajahnya ke leher Bu Ayu, mendesah keras, dan merasakan sensasi panas spermanya mengalir ke dalam tubuh Bu Ayu.
Keduanya ambruk ke ranjang, terengah-engah, tubuh mereka lengket oleh keringat dan cairan cinta. Kontol Fendy masih membenam di dalam memek Bu Ayu yang berdenyut-denyut. Aroma seks yang kuat memenuhi kamar, menjadi saksi bisu dari pertemuan dua jiwa yang dilebur oleh nafsu tak terkendali. Bu Ayu memeluk Fendy erat, bibirnya tersenyum puas. “Aku selalu tahu kontolmu akan membuatku ketagihan, Fendy…”
Fendy terkekeh pelan, mencium puncak kepala Bu Ayu. “Dan memekmu, Bu Guru, selalu membuatku ingin crot di dalamnya lagi dan lagi.” Mereka tahu, malam itu masih sangat panjang, dan gairah mereka tak akan pernah padam hanya dengan satu kali pelepasan. Bu Guru yang hipersek, dan muridnya yang berani, baru saja memulai malam yang paling liar dalam hidup mereka.
|GAIRAHPRIA.COM (MATAUANGSLOT) |GAIRAHPRIA.COM