
Cerita Sex Body Yang Mulus Membuatku Terpesona –
Aku telah bekerja selama hampir 5 tahun di bagian akuntansi dan juga masih menempuh kuliah semester 3 di sebuat PTS ternama di Bandung. Aku selalu mengendarai motor bututku VESPA ke mana aku pergi, baik itu ke kantor maupun aku ke kampus.
Pada suatu hari, waktu itu jumat pagi aku akan berangkat senam di kantor, aku mengendarai motorku dengan agak tergesa-gesa, maklum sudah agak terlambat. Sesampainya di jala aku terperanjat hebat karena ada mobil yang memotong di depanku,
“Mas, maafkan saya”, dia mengucapkan kata dengan penuh pesona.
“Nggak pa-pa..”, kataku lirih.
“Nama saya TINA”, kata cewek itu.
“Saya JOVI hehe”, jawabku singkat.
Kamipun ngobrol kesana kemari, aku sudah agak enakan dengan kehadirannya aku bersemangat sekali untuk segera sembuh. Sejak peristiwa itu aku dirawatnya hingga aku pulang, kedua orang tuanya pun selalu menjengukku tiap sore hari, maklumlah aku anak perantauan yang jauh dari keluarga.
Setelah seminggu dirawat aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Semua biaya ditanggung oleh keluarga TINA termasuk motorku yang rusak. Aku diberi motor baru sebagai gantinya dengan harapan aku akan lebih baik, aku selalu dianggap sebagai keluargaTINA sehingga aku diminta tinggal di rumahnya. Akupun sangat berterima kasih sebab akan banyak mengurangi biayaku. Rina di rumah itu adalah anak tunggal dan selalu dimanja.
Setelah hampir 5 bulan aku tinggal aku mulai merasakan bahwa TINA mulai menyukaiku, memang sih usia kami tidak jauh terpaut aku masih 23 tahun sedang TINA 21 tahun. TINA kuliah pagi di PTN semester 3 juga. TINA adalah cewek yang sangat cantik dengan bentuk tubuh yang sangat seksi, sehingga banyak cowok yang ingin jadi kekasihnya.
Singkat cerita, pada hari jumat sore aku di telepon ke kantor untuk segera pulang sore karena ayah dan ibunya akan ke Bandung. Aku segera pulang setelah jam 13.25. Sesampainya di rumah aku mendapati rumah dalam keadaan sepi. Aku pencet bel dan TINA hanya berteriak dari dalam bahwa pintu tidak dikunci. Aku masuk ke kamarku di atas, aku yakin orang tua TINA sudah berangkat, akupun mandi dan bermaksud istirahat, akan tetapi dari bawah TINA berteriak.
“Mas Mass…Mas…., sudah saya bikinkan kopi cream di meja belajarku”, teriak TINA .
“Ya…”, aku turun dan mengetuk kamar TINA.
“Masuk saja tidak dikunci, aku lagi mandi”, jawab TINA .
Dadaku berdebar kencang ketika aku lihat di sudut ruangan ada bayangan body mulus TINA yang seksi itu diguyur air dan hanya terhalang partisi plastik tipis seperti di hotel-hotel). Aku duduk di meja belajar Rina dan menikmati kopi buatannya.
“Mas, udah mandi belum”, tanya TINA .
“Nggak”, jawabku singkat.
“Udah, emang kenapa?, tanyaku balik.
“Mau mandi lagi?”, kata TINA .
Aku membuka majalah di meja TINA , ketika tiba-tiba Rina berteriak, “Mas, tolong ada kecoak”, dengan tanpa pikir panjang aku melompat ke kamar mandi itu. Jantungku berdegub kencang ketika aku melihat TINA hanya tertutup daster kecil jauh di atas lutut.
Aku terdiam dan terpana,TINA tidak merasa malu sedikitpun dia malah menyemprotkan shower yang dia pegang ke arahku, akupun basah kuyup. Kamipun bercanda, aku ambil shower kloset dengan tak kalah cerdik aku menyemprot bagian tubuh TINA yang aku rasa bikin geli-geli .TINA menggeliat-geliat ketika air itu menyemprot ke payudaranya, seolah ia menikmatinya, aku kaget ternyata Rina tidak mengenakan BH.
Aku semakin turun dan melihat TINA juga tidak mengenakan celana dalam, darah laki-lakiku memuncak, tanpa kami sadari kami berpelukan dan aku mencium serta mengulum bibir TINA yang merah dan seksi itu, Rina sangat menikmatinya, tangankupun mulai meraba daerah sensitif TINA, TINA semakin menggeliat-geliat dan daster kecil itupun luruh ke lantai kamar mandi, aku sangat terpesona melihat body mulus TINA tanpa sehelai benang pun,TINA semakin menantang, akupun mulai mencumbuinya.
Sedikit demi sedikit pakaiankupun dilucuti TINA dengan tangan halusnya. Aku bopong body mulus TINA ke tempat tidur, Rina memamerkan memeknya yang kelihatan rapat dan cekung memerah. Aku semakin tidak sabar, aku lepas celana dalamku cepat-cepat. Aku mulai menjilati paha TINA yang mulih halus itu. TINA menggeliat-geliat menahan nafsu birahi.
Saat lidahku menjilati memeknya TINA, Rina berteriak-teriak menahan kenikmatan. Aku semakin ke atas dan mengulum Payudaranya serta menindihnya, semakin ke atas aku mengulum bibirnya dan aku rasakan batang kontolku ini menyentuk benda lembut tapi panas.
Aku coba menekan tapi susah sekali. TINA semakin meregangkan selangkangannya, aku menekan pinggangku dan aku rasakan penisku mulai panas karena batang kontolku menyeruak masuk ke dalam memeknya TINA, semakin panas saat aku menekannya dengan keras dan TINA menjerit sembari mendekapku erat. Sesaat kami terasa tidak sadar, kemudian aku mulai memainkan pinggulku, kami sangat menikmatinya hingga sesaat lamanya Batang Kontolku mengejang dan cairan menyeruak di dalam memeknyaTINA , Rina memelukku erat sekali.
Kami kelelahan namun TINA kembali menggoyangkan pinggulnya, akupun seolah enggan untuk mencabut Kontolku yang dijepit memeknya TINA yang sangat kuat itu, kami memainkan lagi pinggul kami sangat lama. Kemudian kembali Kontolku mengejang dan cairan itu menyemprot diding rahim TINA . Dia memejamkan matanya sembari memelukku erat. Kamipun tertidur dengan posisi penisku masih menancap didalam memeknya yang hangat itu Uhhhh……..
Setelah bangun aku merasa Kontolku pun sakit dan panas sekali, akan tetapi saat aku mau mencabut Kontolku,TINA kembali memelukku. TINAsungguh hebat, kamipun melakukan lagi. Setelah itu Rina melangkah ke kamar mandi, aku mengikutinya dari belakang. Rina mencuci vaginanya dan aku mencuci Kontolku.
“Mas, aku lapar”, kata TINA .
“Aku juga”, jawabku samabil kucium bibir TINA .
Rina mengenakan pakaian seperti saat mandi tadi, tanpa BH dan celana dalam, aku membalut tubuhku dengan handuk. Kami melangkah ke dapur untuk masak, kami bercanda dan tanpa aku sadari Kontolku telah menegang,TINA pun begitu.
TINA duduk di meja dapur dan mengangkat kakinya, vaginanya kelihatan begitu indah dan kecil. Aku pegang penisku dan memasukkannya ke dalam lubang memeknya, gesekan-gesekan lembut kami lakukan dengan tenang dan mesra. Setelah beberapa lama cairan spermaku menyemprot di dalam memek hangatnya TINA. TINA tersenyum puas.
Kami melanjutkan lagi masak dan makan malam. Mulai saat itu setiap pagi penisku menegang, aku turun dan melakukan perbuatan itu dengan TINA , ya hampir setiap pagi. Kami sangat menikmatinya dan aku bicara kepada orang tua TINA untuk meminangnya, mereka setuju.
Kami sangat bahagia dan semakin gila-gilaan melakukan perbuatan mesum tersebut tanpa kenal waktu dan ruang.