Cerita Sex Membayar Hutang Pakai Cara Ngentot – Gairahpria.com Aku sebenarnya tidak tega menagih utang pada kawanku yang satu ini. Namun, karena keadaanku juga sangat mendesak, aku memberanikan diri dengan harapan temanku bisa membayar minimal separuhnya dulu. Sayang sekali, Antonius, kawanku yang baru menikah enam bulan yang lalu ini, tak bisa membayar barang sedikit pun.
Memang aku mengerti keadaannya. Ia menikah pun karena desakan orang tua Asmara, yang kini jadi istrinya. Antonius sendiri, sampai saat ini belum punya pekerjaan. Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Antonius. Gua jadi enggak enak nih.. Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq.
Gua cuma nyoba aja, barangkali ada, aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran. Ma, gua mau bisikin sesuatu.. tiba-tiba Antonius mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Antonius menawarkan istrinya untuk kutiduri. Gila lu.. Sialan.. ucapku. Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya elu udah banyak berbuat baik sama gua.
Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan.. begitulah ucap Antonius dengan serius. Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Asmara. Bahkan aku pun memuji Antonius, bisa mendapatkan gadis secantik Asmara. Selain posturnya yang tinggi, Asmara memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar.
Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Asmara. Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berfantasi membayangkan Asmara jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Asmara kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jau
h-jauh. Karena aku sangat tahu, Asmara itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula.
Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.Lu serius, Ta? Bagaimana dengan Asmara? Apa dia mau? aku pun akhirnya mulai terbuka. Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau, jawabnya. Gimana caranya? aku penasaran.Antonius kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi.
Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Asmara.Asmara..! Asmara..! Asmaraa..! Antonius memanggil istrinya.Dan tanpa selang waktu lama, Asmara ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.Ada apa, Bang? tanya Asmara. Tolong belikan rokok ke warung..! kata Antonius sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya. Baik, Bang, Asmara menerima uang itu, lalu ke luar.
Antonius segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Antonius ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.Tidak lama kemudian, terdengar suara Asmara yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu.
Dan Antonius mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Asmara kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas. Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar.
Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Asmara yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk..
Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.Emh.. Ah.. Uh.. Oh.. Jelas, itu suara milik Asmara. Euh.. He.. Euh.. nah kalau itu, suara Antonius.Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss.. suara Asmara membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.
Aku bisa merasakan, Asmara sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul.
Terutama tubuh Asmara, yang putih mulus. Antonius sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Asmara sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Antonius, dan kakinya menjepit pantat Antonius. Aku mulai tidak tahan.
Tiba-tiba Antonius semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Asmara semakin menjadi-jadi.Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh.. Hanya itu yang keluar dari mulut Asmara, karena mulutnya disumpal oleh mulut Antonius. Dan akhirnya. Agh.. Agh..! suara Antonius mengakhiri pendakian itu.Namun tampaknya Asmara belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Antonius, agar tak segera mencabut penisnya.
Tetapi apa hendak dikata, Antonius sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Antonius tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Asmara dan langsung menindihnya. Tentu saja Asmara terpekik kaget.Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..! Asmara berontak. Ia sangat marah tampaknya.
Asmara, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan.. Antonius yang menjawab, sambil mengelus rambutnya. Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! bangsat..! Asmara mendorong tubuhku.Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Asmara tetap …meronta.
Asmara berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.Meskipun liang vagina Asmara sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Asmara terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus.
Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Asmara tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.Kurasakan ada air mata yang mengalr dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu.
Kuremas-remas payu daranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Asmara terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Asmara bisa beradaptasi dengan penisku. Asmara tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.
Walaupun Asmara diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Asmara. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Asmara ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam.
Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian mem
buru. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.Kau menikmatinya
, sayang? bisikku.? Diam..! dia membentakku.
Namun aku yakin, Asmara hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Asmara menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan.
Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Asmara. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras.
Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.Agh.. Agh.. Agh.. Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Asmara.? Akh.. Akhh.. Akh.. Ss.. begitulah yang keluar dari mulut Asmara.Lalu kemudian Asmara mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.