Cerita Sex Nenek yang mempunyai nafsu besar -
Cerita Sex Nenek yang mempunyai nafsu besar –

Cerita Sex Nenek yang mempunyai nafsu besar – Gairahpria.com kali ini mimin akan memberikan cerita panas mengenai nenek yang masih mempunyai nafsu seks. Nenek Santi..” begitu biasanya cucu-cucunya memanggil.
Nenek Santi pemilik rumah yang kutempati (kost) adalah nenek yang yang mengerti benar arti kecantikan wanita, itu menurut pandanganku. Usianya kira-kira 56 tahun, gerak-geriknya lembut dan gurat-gurat kecantikannya masih terlihat jelas.
Kalau kubanding-bandingkan, wajah Nenek Santi persis seperti Dona Harun. Dengan kulit putih bersih dan terawat. Bagaimana tidak kelihatan bersih ni nenek-nenek, setiap minggu mandi susu kambing, luluran dan perawatan kecantikan lainnya. Jadi pantaslah kecantikannya masih memancar dan usia tuanya tidak begitu kelihatan.
Di rumahnya, Nenek Santi tinggal sendiri ditemani dua orang pembantu serta 3 kamar di lantai atas dikoskan. Anak-anak Nenek Santi ada 2 orang, Ibu Naila dan Ibu Sari, sudah menikah tapi tinggal di lain kota. Aku, Karsiman dan Jessica adalah anak-anak kostnya. Kami sebagai anak kost memang kompak bertiga dan sudah lama kost di rumah Nenek Santi. GAIRAHPRIIA.COM
Sehingga kami bertiga ini sudah seperti keluarga atau ya sebut saja cucunya Nenek Santi hehehe.. karena sudah dekat sekali seperti keluarga. Selama kami tinggal, terutama aku, memang tidak ada pengalaman (sex) yang seru di kjost-an ini. Tapi sore itu, aku mendapat suatu pengalaman sex baru. Berhubungan sex dengan nenek-nenek, Nenek Santi! Nah.., begini ceritanya penonton setia gairahpria.com semakin lama semakin tegang!!. tetap menjadi penonton setianya GAIRAHPRIA ya guys !!
Aku Darmaa (22 tahun) sampai di tempat kost jam 5 sore. Sepi, karena 2 orang tetangga kostku pulang ke rumahnya, mereka menghabiskan libur kuliahnya di rumah masing-masing. Aku memang ada rencana pulang, mungkin 4-5 hari lagi. Kulihat Nenek Santi sedang merawat bonsai-bonsainya.
“Sore.. Nek” kataku sambil menghampirinya.
“Oh.., Nak Darmaa, udah pulang rupanya.”
Asyik sekali kelihatan Nenek Santi dengan bonsai-bonsainya. Hobinya yang satu ini memang cocok dengan pribadi Nenek Santi. Resik dan anggun, bagaikan bonsai peliharaannya. Karena aku capek dan Nenek Santi kelihatan asyik dengan bonsainya, aku pamit mau istirahat di kamar.
Pelan-pelan kunaiki anak tangga, menuju kamarku. Wah.., terasa sekali sepinya, biasanya sore-sore begini kami berkumpul sambil becanda-canda dan ngobrol, terutama sama si Beautiful Jessica. Walaupun Jessica ini bodynya bomber (beratnya 80 kg kurang lebih sih), wajahnya lumayan cantik juga.
Gendut tapi wajahnya tidak terlalu bulat, pokoknya cantik deh. Gila! kok bisa ngelamunin Jessica. Entah karena ngelamunin Jessica atau memang nafsuku lagi kumat, kulepaskan celana, yang tinggal hanya CD-ku saja. Gundukan celana dalamku makin membesar, penisku tegang! Sakit juga rasanya, akhirnya kulepaskan CD-ku, telanjang bulat! Kumainkan penisku, kukocokin penisku sambil membayangkan menyenggamai si gendut Jessica.
Tiba-tiba.., “Ceklek.. kreeit..,” pintu kamarku terbuka (aku lupa mengunci pintunya).
“Weleh-weleh.., Nak Darmaa, Nak Darmaa. Barang gede gitu kok dianggurin, sini masukin memek Nenek aja..!”
Kaget sekali aku, tidak tahu rasanya, antara malu dan birahiku masih telentang bugil di tempat tidur. Tapi Nenek Santi dengan cueknya malah melangkah masuk ke kamar, menghampiriku. Rupanya dari tadi dia sudah menonton acara ngocokku. Dan aku benar-benar tidak menyangka akan ucapannya.
“Ngentot Nenek Santi..?”
“Siapa takut..!?”
Nah, ini yang kumaksud pengalaman baru dan membuat pribadi sex-ku berubah. Di kemudian hari, aku hanya senang berkencan (bersenggama) dengan wanita yang usianya di atas usiaku. Kalau tidak tante-tante, ya.. nenek-nenek. Dan yang pasti melalui Nenek Santi lah aku dikenalkan dengan teman-temannya. Pokoknya lebih asyik begituan dengan nenek-nenek, liang vaginanya keset dan agak sempit lah..!
Penis besarku dielus-elus sama Nenek Santi, lembut sekali. Kuraba susu Nenek Santi (Nenek Santi masih memakai daster tipis), lumayan besar (bulat lonjong dan ada tato kupu-kupu) tapi agak kendor. Wajah kami sudah demikian dekatnya, penisku masih dipegangnya sambil dikocok.
Gurat-gurat wajah Nenek Santi kelihatan menampakkan wajah tuanya. Tapi who care..! Yang kulihat sekarang, Nenek Santi benar-benar bagaikan pacarku (gadis 20 tahunan), sintal dan menggairahkan! Dan yang pasti akan ku entot dia habis-habisan..!
Posisi kami masih berdiri, tapi sekujur tubuh kami sudah tidak terbalut sehelai pakaian pun, los polos.. telanjang bulat! Tubuh Nenek Santi yang putih mengelinjang kegelian ketika susu besarnya kuhisap-hisap, kugigit dan kutarik-tarik puting susunya.
“Uh.. aahh.. aduh.. Darmaa.. geli aku..!” teriaknya tertahan oleh birahi.
Susu Nenek Santi mengelonjor, makin turun bergoyang-goyang. Lidahku makin liar menjalar-jalar menjelajahi lekuk tubuh Nenek Santi yang putih mengkerut.
Puas bermain di puting susunya, lidahku menjelajah turun ke bawah gunung kembar Nenek Santi. Perutnya sedikit turun, bergelombang bagaikan sisa ombak di pesisir pantai. Sungguh semakin membuat birahiku bergejolak. Bulu-bulu kemaluannya masih terlihat lebat dan kelihatan bibir vaginanya sedikit menyembul, bagaikan jengger ayam.
”Wow.., bener-bener terawat luar dalam ini Nenek.” Walaupun lemak sedikit menggumpal di perutnya, tapi memeknya masih lumayan bagus, sampai liang memeknya pun bersih terawat dan wangi bunga, terlihat berwarna merah segar kemudaan.
“Shrup.. shrup.. cop.. cop..” bunyi lidahku menari-nari menghisap lubang memek Nenek Santi.
“Uh.. uh.. oohh trus trus.. Nak, aduh.. nikmatnya.. iihh.. aw aw..!” badan Nenek Santi meliuk-liuk menahan kegelian.
Vagina Nenek Santi basah oleh ludahku. Mungkin yang namanya monupouse (berakhirnya kelenjar pelicin) ya.. ini, vagina Nenek Santi sama sekali tidak mengeluarkan cairan.
“Bu.. ibu..” tiba-tiba si Nadia, pembantu Nenek Santi memanggil-manggil.
“Bangsat nih orang..!!” umpatku kesal.
Gimana tidak kesel, lagi mau masukin kontol ke memek Nenek Santi, eh.. si Nadia manggilin tuannya. Bergegas Nenek Santi merapihkan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan.
Sambil tersenyum, dia berbisik, “Kamu pinter.. Nak. Nanti malam kita terusin ya.. Sayang..?”
Nenek Santi bergegas turun dan tidak lupa mengecup pipiku mesra. Samar-samar kudengar alasan Nenek Santi kepada Nadia, dia di kamar atas dari tadi mengecek kamar anak-anak kost. Busyett nih nenek pintar juga bohongnya.
Jam di kamarku menunjukkan pukul 21.37 malam. Lampu-lampu di ruang tamu dan kamar pembantu mulai dipadamkan. Sepertinya kedua pembantu Nenek Santi sudah mulai tidur. Kecapean kali dari pagi kerja beberes rumah. Sepi sesekali terdengar bunyi jangkrik bersahutan. Aku sudah tidak sabar menunggu Nenek Santi. Acara TV di kamarku tidak lagi menarik perhatianku. Sayup-sayup kudengar langkah kaki menaiki tangga.
“Sstt.. Nak Darmaa.. ini Nenek..” bergegas kubuka pintu kamarku, kupeluk erat nenek-nenek ini.
“Nek..kok lama sih.., Aku udah nggak tahan nih pengen masukin titit aku ke memek nenek!” kataku sambil kutunjukkan penisku yang sudah terangsang berat, aku memang sengaja telanjang bulat menunggu kedatangan Nenek Santi
.“Ihh.. gedenya!” dipegangnya penisku. “Iyaa.. Nenek juga udah pingin ngerasain punya kamu, rasanya gimana ya.. kalo punya kamu yang gede itu masuk ke Nenek..? Aduh.. ngebayangin aja rasanya udah cekot-cekot..” katanya sambil pakaiannya dilepas. Yang menempel hanya kutang dan celana dalam berwarna hitam. Seksi sekali!
Sekarang badan kami menempel erat, bergumul di tempat tidurku. Ujung penisku yang terangsang berat diusap, diremas, pokoknya geli habis deh..! Badanku menggelinjang menahan geli. Bibir kami saling bercumbu, menggigit dengan nafsu yang membara. Sambil puting buah Dada Nenek Santi kupilin-pilin.
“Aduh.. Nak.. uuh.. sini gantian, Nenek mau hisap punya kamu..!” dengan cepat Nenek Santi bergerak turun mencari penisku yang masih tegak. Ujung-ujung penisku dijilatinya.
“Uh.. ah.. ah.. sstt.. Nek.. ah.. enak sekali Nek..” suaraku tertahan menahan geli yang sangat.
Mendengar eranganku, Nenek Santi semakin bernafsu memainkan lidahnya. Dari ujung penis, lidahnya menjilat-jilat batang kemaluanku, terus.. terus.. sampai dua pelorku pun tidak luput dari jilatannya. Kedua pelorku dihisap dan dikulumnya.
“Sstt.. uuh.. geli.. Nek..,” tidak kuat aku menahan geli.
Busyet! Nenek Santi benar-benar jago. Baru kali ini aku merasakan sensasi sex yang begitu hebat. Tua-tua keladi nenek ini, makin tua makin HOT.
“Srupp.. srupp.. sstt.. sstt..” suaranya kedengaran seperti kepedasan.
Mulut Nenek Santi terbuka lebar memasukkan penisku, karaoke! Geli sekali batang penisku bergesekan dengan giginya. Uh.. tambah geli aku, begitu ujung penisku digigit-gigitnya.
“Nek.. Darmaa.. nggak tahan.. Darmaa mau masukin ya..?”
Pelan-pelan penisku dilepas, Nenek Santi telentang di sisi tempat tidur dengan kaki terbuka lebar (mengangkang). Lubang vaginanya terbuka lebar, siap melumat batang penisku. Ujung penisku mulai menyentuh bibir kemaluannya.
Dari atas, vaginanya yang terbuka terlihat menyembul sedikit lubang kencing Nenek Santi. Kugesek-gesekkan dulu penisku ke biji kacangnya.
“Uh.. uh.. geli.. oohh.. nak Darmaa.. Nenek udah nggak tahan..!” Kemudian erangannya berganti menjadi, “Ah.. aah.. aduh.. Nak..” ketika penisku menerobos masuk ke dalam vagina Nenek Santi.
Pertama masuk vaginanya sedikit tertahan (kering), karena cairan kemaluannya tidak seperti gadis belasan tahun, akhirnya akupun mengambil minyak sayur yang ada di kamarku aku lumuri penisku dan vagina Nenek Santi dengan minyak sayur itu, agar licin dan dan enak saat aku genjot dia nanti.
“Blep.. plak.. plak.. blep..” bersahutan-sahutan bunyi batang kemaluanku beradu, sambil masih kupegang kedua kakinya naik ke atas membentuk huruf V.
Mata Nenek Santi meram melek menahan gejolak kenikmatan. Kupandangi wajahnya, sedikit mehanan nyeri, tersenyum. Buah dadanya bergoyang naik turun, kiri.. kanan.., seiring penisku menghujam masuk keluar lubang vaginanya. GAIRAHPRIA.COM
Terasa ngilu penisku di dalam, rupanya Nenek Santi sengaja mempermainkan liangnya.
“Uuh.. oohh.. jepitannya enak sekali Nek..!” eranganku pertanda Nenek Santi akan mengakhiri permainan ini.
“Aahh.. Draa.. Nenek.. oohh.. aduhh.. keluar.. oohh..”
Gesekan penisku semakin keras maju mundur, liang senggama Nenek Santi berdenyut-denyut menjepit batang kemaluaku sambil tangannya mencengkram sprei tempat tidur. Terasa cairan hangat membasahi penisku.
Aku sudah tidak tahan, seolah-olah ada dorongan yang begitu hebat di dalam diriku. Semakin keras kupompa vagina Nenek Santi, semakin keras dorongan yang kurasakan. Ah.., rasanya spermaku akan tumpah keluar.
“Sekarang.. Nek.. oohh.. Darmaa.. mo keluar.. aahh..!” spermaku muncrat membasahi dalam lubang vagina Nenek Santi.
Basah dan hangat sekali. Berkedut-kedut vagina Nenek Santi. Batang kemaluanku masih setia terbenam di dalam lubang kenikmatannya. Nenek Santi tersenyum senang sambil memencet hidungku.
Lama kami saling terkapar di tempat tidur. Nenek Santi merasa tidak kuat turun dari kamarku. Sambil tidur-tiduran, kami saling terbuka menceritakan pribadi masing-masing.
Hangat sekali malam ini dikeloni oleh Nenek Santi. Dia mengharapkan supaya aku mau terus kost di rumahnya (gratis tentunya). Dan suatu saat, dia akan mengenalkanku dengan teman-teman yang sehoby dengan Nenek Santi. Aku hanya mengangguk di dekapan Nenek Santi