Inilah 8 Mitos tentang HPV, Si Penyebab Infeksi Menular Seksual

Human papillomavirus atau HPV adalah infeksi menular seksual yang paling sering ditemukan di AS, bahkan tercatat menyebabkan enam juta kasus infeksi baru pada orang dewasa yang aktif secara seksual setiap tahunnya.

Tapi sebenarnya sebagian besar HPV dapat hilang dengan sendirinya, meski ada beberapa strain yang dapat menyebabkan munculnya kutil kelamin hingga kanker serviks, anus dan penis. Padahal kanker serviks adalah kanker yang paling sering dikaitkan dengan HPV dan menyebabkan sekitar 500.000 kasus baru dan 275.000 kematian setiap tahunnya.

Sayangnya meski telah diupayakan edukasi dan kampanye dengan berbagai media tentang HPV, nyatanya kesalahpahaman tentang penyakit ini tetap ada. Ini dia 8 hal yang paling sering disalahpahami dari HPV seperti halnya dikutip dari huffingtonpost, Rabu (9/1/2013).

1. Tes pap yang tak wajar berarti risiko HPV tinggi
Tes pap merupakan screening yang paling sering digunakan untuk mencegah kanker serviks. Caranya, dokter akan mengambil satu kultur sel dari serviks seorang pasien wanita lalu memeriksa sel-sel tersebut untuk memastikan adanya tanda-tanda abnormalitas atau tidak.

Tapi karena sel yang tampak abnormal jumlahnya sedikit sehingga calon pasien membutuhkan screening lebih lanjut. Hanya saja itu bukan berarti Anda mengidap kanker yang diakibatkan oleh strain HPV, karena itu hanyalah salah satu penyebab potensialnya saja.

“Bedanya mungkin karena adanya iritasi lokal, infeksi non-HPV, HPV berisiko rendah atau bahkan hanya karena kesalahan preparasi sampel sel semata,” papar American Sexual Health Association.

2. Penggunaan kondom cegah HPV
Yang tak banyak diketahui orang adalah HPV seringkali disebarkan melalui kontak kulit, bukannya lewat cairan tubuh. Untuk itu, kondom memang dapat menurunkan risiko penyakit tersebut tapi tidak serta-merta menjadi sarana pencegahan yang memadai bagi HPV seperti halnya virus lain seperti HIV dan gonorrhea.

3. Seks oral itu aman dari risiko kanker
Meski HPV paling sering dikaitkan dengan kesehatan serviks, sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Oncology pada tahun 2011 mengungkapkan bahwa ternyata para pakar telah lama menemukan adanya lonjakan kasus kanker oral yang berkaitan dengan HPV.

Faktanya antara tahun 1988-2004, kasus kanker orofaringeal (kanker mulut) yang berkaitan dengan HPV terus mengalami peningkatan hingga 225 persen.

Lagipula seks oral adalah penyebab utama adanya kanker mulut dan esofagus sehingga screening terhadap kedua jenis kanker ini sangatlah penting dilakukan ketika berkunjung ke dokter, terutama bagi pasangan yang sering melakukannya.

4. Sudah divaksin HPV berarti tak perlu khawatir soal kanker serviks lagi
Vaksin HPV memang berfungsi melindungi seseorang dari empat strain virus yang paling sering dikaitkan dengan kutil kelamin, termasuk kanker tapi bukan berarti metode itu bisa mencegah kanker secara keseluruhan.

Itulah mengapa salah satu kekhawatiran terbesar yang dirasakan komunitas medis adalah vaksinasi ini dianggap memberikan keamanan yang memadai serta mencegah orang-orang melakukan screening kanker secara rutin. “Ada banyak informasi yang tak jelas tentang perlindungan tak menyeluruh yang ditawarkan oleh vaksin ini sehingga screening serviks masih diperlukan,” tulis tim peneliti kesehatan masyarakat dari Inggris dalam Journal of Medical Screening.

5. HPV itu penyakit serius yang bisa berlangsung seumur hidup
Nyatanya 90 persen infeksi HPV bisa sembuh dengan sendirinya setelah dilawan langsung oleh sistem kekebalan tubuh.

6. Kutil pada kelamin bisa jadi pra-kanker
Sejumlah strain HPV (berisiko rendah seperti tipe 6, 11, 42, 43 dan 44) dapat menyebabkan kutil kelamin namun strain lainnya (tipe 16, 18, 31 dan 45) bisa menyebabkan kanker serviks, vulva, vagina, penis, anus dan kanker orofaring (meliputi bagian belakang tenggorokan, pangkal lidah dan tonsil).

Tapi bukan berarti satu kondisi yang ditimbulkan oleh HPV dapat mengakibatkan kanker seperti halnya kutil kelamin. Kendati kutil kelamin menyerang satu persen populasi orang dewasa yang aktif secara seksual di AS namun kondisi ini tidak menyebabkan kanker.

7. Vaksin HPV hanya untuk wanita
Vaksin pencegah HPV pertama yang beredar di pasaran, Gardasil disetujui untuk digunakan oleh remaja perempuan dan wanita dewasa pada tahun 2006, tiga tahun kemudian barulah vaksin ini boleh dipergunakan oleh remaja pria. Selain itu Gardasil dan Ceravix juga disetujui oleh FDA untuk dipergunakan para wanita, sedangkan para pria hanya bisa menggunakan Gardasil saja.

Kendati begitu, vaksinasi HPV tetap harus dilakukan oleh kedua pihak. Baik CDC dan American Academy of Pediatrics juga merekomendasikan vaksin ini untuk remaja pria meski remaja pria takkan menjadi vektor penyakit (faktor penular) ini tapi pemberian vaksin ini dapat berkontribusi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuhnya sekaligus mencegah serangan infeksi yang berbahaya ini pada wanita.

Nyatanya angka kasus kanker yang berkaitan dengan HPV pada pria juga terus mengalami peningkatan, diantaranya kanker anus dan penis, serta kanker mulut dan tenggorokan.

8. Remaja perempuan yang divaksin HPV akan menjadi aktif secara seksual
Menurut sebuah studi terhadap remaja perempuan, baik yang sudah diinokulasi maupun belum, tidak ditemukan adanya bukti bahwa remaja yang menerima vaksinasi ini akan terlibat dalam perilaku seksual yang berisiko, bahkan mereka tidak memiliki kecenderungan untuk terserang infeksi menular seksual, hamil atau menggunakan kontrasepsi. Dengan kata lain jarang terlibat dalam aktivitas seksual.

“Vaksinasi HPV untuk usia-usia yang direkomendasikan tidaklah ada kaitannya dengan peningkatan aktivitas seksual,” kata peneliti. (detik.com – vta/vta)

Sering Kawin Cerai Perbesar Risiko Kanker Serviks

Gonta-ganti pasangan tidak hanya berisiko menimbulkan penyakit menular seksual seperti HIV-AIDS atau sifilis, tetapi juga meningkatkan risiko penularan kanker serviks (leher rahim). Orang yang menikah muda atau sering kawin cerai juga berada pada risiko tinggi kanker serviks.

Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) dan mudah ditularkan melalui kontak kulit kelamin. Ada lebih dari 100 tipe HPV yang teridentifikasi, tapi HPV tipe 16 adn 18 yang menyebabkan lebih dari 70 persen kanker serviks di Asia Pasifik dan dunia.

“Kalau yang nikah muda banyak dan yang cerai terus kawin lagi juga banyak, maka kanker serviks juga makin banyak. Makanya jangan sering-sering kawin (menikah),” jelas Prof Dr dr Nila Djuwita Moeloek, SpM(K), Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dalam acara konferensi pers Pencanangan Gerakan Nasional Peduli dan Cegah Kanker Serviks dalam Rangka HUT YKI ke-35, di Kantor YKI, Jakarta, Rabu (18/4/2012).

Menurut Prof Nila, HPV yang menyebabkan kanker serviks memang mudah menular melalui kontak kulit kelamin dan hubungan seksual. Oleh karena itu, orang yang sering gonta-ganti pasangan risiko mengalami kanker serviks juga lebih besar.

“Virus HPV yang masuk tidak langsung menyebabkan kanker, tetapi butuh jangka waktu lama untuk replikasi sel. Virus ini punya autonom sendiri, sehingga dia bisa replikasi sel sendiri,” lanjut Prof Nila.

Pada intinya setiap perempuan memiliki risiko terkena kanker serviks, meskipun ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan peluang terkena kanker serviks, seperti bergonta-ganti pasangan.

Tidak semua penyakit kanker bisa diketahui secara pasti penyebabnya, tapi untuk kasus kanker serviks memang telah diketahui disebabkan oleh HPV (human pappiloma virus) yang sebagian besar disebabkan oleh penularan seksual.

Infeksi ini tidak menimbulkan gejala, seringkali orang datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah lanjut dan kankernya sudah bermetastatis (menyebar) ke organ lain.

Gejala yang muncul seperti pendarahan dari vagina, sakit panggul atau keputihan merupakan tanda bahwa kanker serviks sudah masuk ke stadium lanjut. Karenanya untuk mencegah kanker serviks jangan menunggu sampai gejalanya muncul.

Kanker serviks menimbulkan beban yang sangat besar bagi kaum perempuan Indonesia, padahal kanker ini bisa dicegah. Pencegahan primer dilakukan dengan edukasi atau sosialisasi dan vaksinasi, sedangkan pencegahan sekunder dengan deteksi dini melalui pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).

sumber : detik.com

ABENetwork mempunyai produk TISSUE DOUBLE MAJAKANI (TDM) yang mempunyai manfaat dan kandungan sbb:

Intimate Tissue Majakani mengandung extrak alami buah Majakani Piper Betle, Lactic Acid serta Vitamin E yang berfungsi untuk membantu :

  • Mengetatkan otot organ intim wanita
  • Memberikan rasa kesat di organ kewanitaan
  • Menstabilkan PH asam & mengurangi cairan (basah) berlebihan
  • Membuat aroma lebih wangi disekitar organ intim
  • Membantu mengencangkan otot-otot perut & rahim setelah melahirkan
  • Membina rahim & membersihkan selepas bersalin & haid
  • Mencegah Keputihan
  • Menghilangkan gatal-gatal pada organ intim
  • Mencegah jamur yang menyebabkan bau tak sedap
  • Menjaga agar kulit sekitar organ intim tetap sehat dan terawat.
  • Mencegah Kanker Serviks (bukan melalui hubungan pasutri)
    Tahukah anda? SETIAP perempuan berisiko terkena kanker serviks
    dan tiap 1 jam, 1 wanita indonesia meninggal karena kanker mematikan tersebut.

8 Tipe Virus Penyebab Kanker Leher Rahim

Barcelona, Kanker serviks atau kanker leher rahim disebabkan oleh virus human papillomavirus (HPV). Setidaknya ada 118 jenis HPV berbeda yang menjadi penyebabnya tapi hanya 8 tipe HPV yang paling banyak menularkan pada lebih dari 90 persen kasus kanker serviks.

Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Silvia de Sanjose dari Catalan Institute of Oncology di Barcelona memeriksa jenis tipe HPV yang berkontribusi terhadap kasus kanker serviks.

Studi ini menggunakan data dari 10.575 kasus kanker serviks di 38 negara selama 60 tahun terakhir. Studi ini melibatkan kasus kanker dari Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Asia dan Oseania.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet menunjukkan, bahwa ada 8 tipe HPV yang bertanggung jawab terhadap 90 persen kasus kanker serviks. Tipe HPV tersebut adalah tipe 16, 18, 45, 33, 31, 52, 58 dan 35.

Peneliti juga mengidentifikasi beberapa jenis HPV langka seperti tipe 26, 30, 61, 67, 69, 82 dan 91, tipe ini juga bisa menyebabkan kanker tapi persentasenya hanya sekitar 1 persen di seluruh dunia.

Produsen obat GloxoSmithKline dan juga Merck & Co sudah membuat vakin terhadap strain HPV yang menjadi penyebab kanker serviks terbanyak. Kanker serviks merupakan kanker kedua yang paling umum diderita oleh kaum perempuan di seluruh dunia.

Vaksin Cervarix dari GSK dan Gardasil dari Merck baru memberikan perlindungan terhadap tipe HPV 16 dan 18. Imunisasi HPV ini akan diberikan pada anak perempuan yang belum aktif secara seksual, tapi harga dari vaksin ini terlalu mahal sehingga tidak bisa diakses secara maksimal di negara-negara miskin.

“Pencegahan kanker serviks melalui vaksin yang ada tetaplah rasional, dan hasil ini akan membantu mengembangkan vaksin generasi kedua yang dapat melindungi beberapa jenis HPV,” ujar De Sanjose, seperti dikutip dari Reuters, Senin (18/
(ver/ir)

sumber : detik.com

Cara Mencegah Kanker Serviks

SETIAP WANITA Berisiko Terkena KANKER SERVIKS!
TIAP 1 JAM, 1 Wanita Indonesia *MENINGGAL* karenanya!
Sudahkah anda menyadari & mencegahnya?
Cervical Cancer

Kanker serviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel
yang tidak normal pada serviks (leher rahim)

Penyebab utamanya adalah virus yang disebut Human Papilloma (HPV) yang dapat menyebabkan kanker.

Continue reading →